Anggota : 485
Posting : 815
cayono - Peringkat: Warga Ngoceh
Nama
mokhammad cahyono
Kirim Pesan
kiazuman - Peringkat: Warga Ngoceh
Nama
Arnold Dust
Kirim Pesan
marteen_bootc - Peringkat: Warga Ngoceh
Nama
marten butsiyanto
Kirim Pesan
ohasanoe - Peringkat: Warga Ngoceh
Nama
okiee
Kirim Pesan

Selamat Datang di Forum Ngoceh.us

User Manual : Cara Posting (Download versi PDF)
yoitio
Lurah Ngoceh

UserID : 684
Total Posting : 270
Tgl Gabung :
Kamis, 08 Sep 2011
Kota : Cilacap (luar kota)
Kirim Pesan
Laporkan Anggota

Takabur, Sifat Pengikis Amal Baik

 Rabu, 23 Jul 2014 - Pukul 08:11
0 Rating:

Takabur sering didefinisikan dengan rasa kagum terhadap diri, sikap suka membesar-besarkan, dan membusungkan dada. Bermula dari rasa membangga-banggakan diri, sifat ini lalu beralih jadi merasa tinggi diri serta paling sempurna di antara yang lain.

Dalam Tafsir al-Azhar, Buya Hamka mendefinisikan takabur sebagai rasa mencintai diri lebih dari batasnya. Efek paling berbahaya dari sifat ini, percaya bahwa dialah satu-satunya pemilik kebenaran. Tak ada kebenaran lain di luar dirinya.

Tak hanya bagi pemilik sifatnya, takabur amat berbahaya bagi orang lain. Dia hanya tahu kelemahan orang lain, tapi tak menyadari kelemahannya sendiri. Dia menutup mata rapat-rapat akan kemajuan orang lain.

Lebih jauh lagi, dia selalu mencampakkan saran dan kritik orang lain, selain juga bebal terhadap inovasi. Sebagai gambaran tentang buruknya penyakit hati ini, Rasulullah bersabda, yang artinya: "Sesungguhnya takabur adalah mencampakkan kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Ath-Thabrani).

Dalam Ihya Ulum al-Din, Imam Al Ghazali menulis, sifat sombong merupakan penghalang antara seorang hamba dengan berbagai akhlak mulia selama di dunia. Di kitab itu, Al Ghazali menyebut tujuh faktor yang membuat manusia tinggi diri. Yaitu, pengetahuan, amal ibadah, kedudukan atau keturunan, dan rupa. Selain itu, ada harta, kekuatan, dan kekuasaan juga mendorong seseorang bersikap sombong.

Mengenai sifat buruk ini, Allah SWT telah mengingatkan hamba-Nya bahwa kesombongan hanya akan menjauhkannya dari Sang Khaliq. Ia menjadi faktor pengikis amal baik manusia. Dalam surat Al-A'raf, Allah berfirman, yang artinya: "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku." (Q, 7: 146).

Di samping itu, sikap memandang diri paling suci dan tidak memiliki kesalahan apapun hanya akan menutup pintu batin dan mata hati seseorang menuntunnya menuju kegelapan. Rasulullah bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya memendam sebiji sawi dari sifat sombong." (HR. Muslim).

Namun demikian, perlu diberi catatan mengenai sifat sombong ini. Kesombongan boleh dimiliki seorang hamba namun dalam kadar yang kecil, hanya sampai pada tingkat bahwa kita punya harga diri. Ini yang disebut ta'affuf (menahan diri, tidak meminta-minta), yaitu orang yang tidak mudah merendahkan diri pada orang lain apalagi sampai meminta belas kasihan.

Sikap tersebut berarti memiliki harga diri, tetapi tidak sombong. Karena itu, para ulama menyarankan untuk membentenginya dengan berzikir, seperti mengucap "alhamdulillah" sebagai ungkapan rasa syukur. Di sini, zikir menjadi bentuk penyadaran bahwa manusia hanya makhluk yang tidak mempunyai harga apa-apa kecuali dengan pengakuan Sang Pencipta.

Semoga dengan momentum Ramadhan tahun ini, kita mampu menjadi pribadi yang rendah hati, mampu memupus egoisme dan kesombongan dalam diri masing-masing.

Fachrurozi Majid, Mahasiswa S2 Filsafat STF Driyarkara dan alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Banten.

 

sumber : yahoo.com

Halaman : 1